"Jangan menangis, didepan orang yang menjadi sebab air matamu" -Rarazulfa
Dua tahun belakangan, semenjak saya kenal Rara. Saya selalu jadikan kalimat itu, sebagai pedoman hidup saya. Saya tidak meneteskan air mata, bahkan ketika orang yang pernah menjadi segala nya untuk saya, memutuskan untuk memilih jalannya sendiri. Menyakitkan memang, tapi saya masih kuat tersenyum, bahkan waktu saya tidak kuat lagi menopang air mata.
5 bulan lamanya saya bertahan sendiri. Entah berapa tetes air mata yang sudah saya sembunyikan dibalik semua ini. Saya takut buka hati lagi. Saya takut, terjebak disituasi yang sama lagi. Ada yang datang, lalu pergi. Ada yang datang, bertahan, namun menyerah. Bahkan ada yang sempat singgah. Lalu terakhir, ada yang sempat membangkitkan saya.
Semenjak saya dan pria yang sudah lebih dulu bahagia itu berpisah, saya menganggap bahwa semua pria itu sama saja jahatnya. Sampai pada akhirnya, ada yang benar-benar buat saya jatuh cinta. Ada yang menggantikan posisi pria itu untuk saya. Beberpa mengatakan bahwa dia lebih jahat, tapi saya yakin sekali padanya. Beberapa mengisyaratkan sesuatu, tapi saya tetap berjalan lurus. Waktu itu, saya percaya bahwa besok, lusa, minggu depan, bahkan bulan depan, dia tetap berada disamping saya, menerima saya seperti apa adanya saya sekarang.
Saya terlena sama keadaan..
Pada akhirnya, dia jauh lebih jahat dari pria sebelumnya. Diluar dugaan saya, dia hanya mampu menjadi sebab senyum saya selama lima belas hari, secepat itu.. Hari itu semuanya berakhir. Dengan alasan, saya terlalu baik untuknya. Sungguh sulit diterima logika saya.. Sepertinya, saya sudah masuk pada lingkaran permainannya. Iya, ini seperti games.
Waktu semuanya selesai, saya tidak cukup kuat menahan air mata seperti dengan pria sebelumnya. Saya lupa tentang apa yang pernah Rara katakan kala itu. Saya menangis sejadi-jadinya didepan orang yang menjadi sebab air mata saya. Iya, saya bodoh sekali. Saya akui dari awal step saya memang salah. Dari awal saya sudah terlalu.. Terlalu cinta misalnya. Mungkin ini juga sebab mengapa saya tidak bisa menjadi wanita sekuat sebelumnya. Saya mencintai orang yang salah.
Saya pernah mendengar kalimat, "Jika dia menjadi sebab airmatamu, berarti dia masih jadi segalanya"... Posisi kamu memang belum ada yang bisa gantikan. Tapi perlu kamu tahu sejauh ini saya baik-baik saja. Beruntunglah kamu, karena menjadi orang pertama yang melihat air mata yang kamu sebabkan sendiri.. Lima belas hari yang kamu ciptakan itu, sudah cukup membuat saya meraung-raung sekuat ini. Luar biasa
keren2 postingannya.. saya suka
BalasHapus