Assalamualaikum wr.wb. Salam sejahtera. Om swastiyastu.
Nama saya Valerie Yovita Edward, putri pertama dan satu-satu nya dari pasangan H. Joni Edward dan Erwita. Saya lahir di Pekanbaru, 19 Agustus 1996. Bulan depan saya berulangtahun ke 18. Iya, saya memang masih terlalu kecil. Saya baru saja menyelesaikan pendidikan di SMAN 2 Pekanbaru. Alhamdulillah, melalui jalur SNMPTN, saya di terima di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Fakultas Kedokteran Hewan.
Ayah saya adalah seorang politikus. H. Joni Edward, 15 Februari 1961. Ayah saya tamatan dari STM Muhammadiyah Pekanbaru. Beliau adalah sosok yang saya kagumkan. Pada pemilu tahun 1999 alhamdulillah ayah saya dinyatakan duduk di kursi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Riau. Saat itu usia saya baru 3 tahun. Saya masih belum mengerti tentang apa itu politik, pemilu dan semua rentetan nya. Ayah saya mencalonkan diri kala itu, dari Partai Demokarasi Indonesia Perjuangan yang mengusungnya.
Sebelumnya ayah saya juga memang seorang yang aktif dalam berorganisasi. GMNI, KNPI, Pemuda Demokrat, dan masih banyak yang lainnya. Ibu saya pun begitu. PDI-P adalah pecahan dari PDI (Partai Demokrasi Indonesia). Ayah dan ibu saya dulu nya adalah pengurus PDI. Bahkan, jalinan cinta mereka berawal dari semua organisasi itu. Kala itu ayah saya di posisi sekretaris dan ibu saya di posisi bendahara yang diketuai Oleh bapak Seoratno. Orangtua saya sering bercerita tentang sejarah sebelum saya lahir. Salah satu sejarah yang melekat di ingatan saya, adalah cerita perpecahan PDI dan PDI-P. Waktu itu tahun 1996. Saya masih dikandungan Ibu saya. Saat itu ibu saya sedang hamil 6 bulan. Kala itu, terjadi peperangan antara kubu PDI dan PDI-P untuk memperebutkan kantor DPD yang terletak di JL. Jend. Sudirman Pekanbaru. Karena kedua orang tua saya adalah pengurus, mereka diwajibkan hadir kala itu. Ibu saya yang tengah hamil, di sembunyikan di pondok durian disamping kantor PDI tersebut, dan ayah saya yang maju untuk menghadapi lawannya. Baku tumbuk, adu fisik pun terjadi. Setelah beberapa argumen di lontarkan, ternyata kepengurusan ayah saya dinyatakan berhasil. Waktu itu ayah saya sebagai sekretaris dan bapak Soeratno sebagai ketua nya di berikan SK dari pusat yang ditanda tangani langsung oleh Ibu Megawati Soekarno Putri selaku ketua umum PDI-P sebagai pendiri partai PDI-P khusus wilayah Provinsi Riau.
Ayah saya cinta sekali dengan partainya. Tahun 2004, ayah saya mencalonkan diri sebagai Calon Legislatif untuk DPR-RI dari PDI-P, namun tidak lolos. Namun sedikitpun ayah saya tidak pernah terfikir ingin pindah ke partai lain. Tahun 2009, ayah saya mencalonkan diri kembali sebagai calon legislatif untuk DPRD Provinsi Riau, tidak lolos juga. Tahun 2014 ayah saya kembali ingin mencalonkan diri, namun setengah jalan dibatalkan dengan alasan yang tidak perlu saya jelaskan.
Kedua orang tua saya selalu menyebut saya ini dari dalam kandungan sudah berdarah politik. Dari semenjak saya dalam kandungan ayah dan ibu saya sudah aktif dalam berorganisasi. Ayah saya sangat mengidolakan tokoh proklamator negeri ini Ir. Soekarno, dan sangat mengagumi anaknya selaku ketua umum PDI-P ibu Megawati Soekarnoputri.
Sebelumnya saya sempat terlintas ingin masuk pada fakultas sospol. Pada prodi Hubungan Internasional. Namun ayah saya melarang. Ayah saya bilang, bahwa politik itu tidak perlu kuliah. Tanpa kuliah ayah saya alhamdulillah bisa jadi seorang politikus. Ayah saya memang sering memotivasi saya untuk bergelut juga dalam dunia politik, tapi disamping itu saya memang harus benar-benar dinyatakan sukses dengan tonggak saya sendiri. Ayah saya ingin saya seperti Puan Maharani, putri Ibu Megawati yang sekarang juga bergelut dalam dunia politik sebagai pengurus PDI-P pusat mengikuti jejak ibu nya.
Itu segelintir latar belakang keluarga saya. Tapi kali ini saya ingin membahas tentang Pemilihan Umum RI 1 yang akan dilaksanakan 5 hari lagi, tepatnya tanggal 9 Juli 2014.
Kali ini, PDI-P mengusung Jokowi untuk mencalonkan diri sebagai RI-1. Jokowi yang berada dalam nomor urut 2 itu berpasangan dengan Jusuf Kalla, seorang Mantan Wakil Presiden periode 2004-2009. Pada postingan saya ini, saya tidak akan berkoar-koar untuk menyuruh siapapun yang membaca postingan saya ini untuk memilih salah satu dari pasangan capres yang akan maju dalam pemilu kali ini. Dalam umur saya yang masih tergolong muda ini (-)18 tahun, rasanya saya memang belum terlalu ngerti jika berbicara tentang politik lebih dalam. Saya melihat sosok bapak prabowo memang seorang yang berwibawa. Disisi lain saya melihat bapak Jokowi seorang yang begitu rendah hati, jarang ada pemimpin yang seperti beliau. Namun jika kita liat lagi keatas, dilihat lagi kala saya bercerita panjang lebar tentang latar belakang keluarga saya, mungkin sudah bisa ditebak siapa yang akan saya dan keluarga saya pilih. Kami keluarga PDI-P, kami sudah jelas dukung bapak Jokowi-Jk.
Disini, di postingan saya ini, saya bukan nya ingin berkampanye, bukan pula ingin menjatuhkan pasangan yang satu lagi, saya tidak ingin memalukan diri sendiri. Sebagai anak dari seorang pendiri PDI-P Provinsi Riau, saya ingin menyebutkan tentang kekecewaan saya dengan pendukung-pendukung capres. Kita yang diperbolehkan memilih, ikut serta dalam pemilu itu adalah kita yang sudah berusia 17 Tahun keatas. Itu berarti, hanyak golongan orang yang bisa disebut dewasa yang berhak memberikan hak pilihnya. Rasanya, melihat teman-teman saya mendukung bapak prabowo dan memperlihatkan kelemahan bapak Jokowi itu tidak pantas untuk dilakukan. Begitupun sebaliknya. Kita sudah sama-sama besar, ayolah kita bersaing secara sehat, ingat kembali salah satu dari mereka akan jadi pemimpin negara kita. Berhenti lah menjelek-jelekkan calon pemimpin kita. Jangan sampai, hanya karna debat capres ini, kita jadi kehilangan teman kita. Kita tidak dilarang untuk mengutarakan hak pilih kita, untuk mendukung jagoan kita, tapi alangkah baiknya jika kita saling menjaga perkataan kita satu sama lain. Agar tidak ada yang tersinggung nantinya.
Terenyuh bathin saya, melihat dibeberapa jejaring sosial yang saya punya, pasti ada teman-teman saya yang ikut serta dalam berkampanye menjatuhkan satu sama lain. Sungguh disayangkan, apa yang kita katakan itu akan jadi sesuatu yang akan kita pertanggung jawabkan nanti nya. Boleh saja kalian mengumbar, boleh saja kalian mendukung capres pilihan kalian, namun alangkah baiknya jika kita tidak sampai menjatuhkan satu sama lain. Sifat kita ini akan mencerminkan sifat bangsa kita. Beginikan sistem demokrasi republik ini? Think again ;)
Sekian postingan saya, saya harap bisa jadi renungan untuk teman-teman sekalian. Lebih dan kurang saya mohon maaf. Saya akhiri, Assalamualaikum.
Salam Perjuangan, MERDEKA!
Valerie Yovita Edward