Separuh menahan sakitku, aku coba pahami apa maksut kepergianmu, dan setelah ku teliti lebih dalam, ada sedikit jawaban yang aku temukan. Mustahil, tapi memang itu keadaannya. Setelah hampir nyaris setengah tahun perjalanan cinta kita, ternyata aku gagal jadi wanita yang kau ingin kan. Mau dikatakan apa? Mau protes yang bagaimana? Mau tidak mau, tugasku harus terima apapun itu.
Terlebih saat kau bilang aku ini membosankan, yang ku pikirkan saat itu, ini wajar untuk fase setengah tahun yang tengah kita jalani saat ini. Ternyata jauh diluar kendali. Apa aku salah jika saat itu aku berusaha membuat semua seolah biasa saja? Apa aku berlebihan jika aku merindukan saat-saat manis yang pernah kita lewati sama-sama? Aku kira kau peka.
Rasa ini terlalu abstrak dan sulit ku deskipsikan, ternyata aku mencintai sendirian. Aku cuma takut jadi bahan tertawaan didepan teman-temanmu. Takut terlihat tolol karna terlampau percaya sama angin surga yang kau beri dulu. Sampai-sampai aku tidak sadar, cinta ku ini tidak tersambut.
Sebelum kau pergi, aku tau ini bakal terjadi. Aku tau aku bakal ngerasain sakit itu lagi, sakit yang telah lama tak aku rasakan. Banyak yang tak kau paham tentang rasa yang aku pendam dulu, aku sengaja merahasiakannya, agar kau tak perlu bertahan karna rasa terima kasih. Tapi untuk kesekian kali, aku terlalu tolol membiarkanmu mengerti trik licik yang aku gunakan ini. Kubiarkan kata-kata terangkai dan memberi tahumu. Dugaan sepertinya benar, setengah tahun itu cuma atas pura-pura.
Aku benci pada perpisahan. Kenapa harus ada yang ditinggalkan dan meninggalkan? Kenapa harus ada yang menyakiti dan disakiti? Kenapa harus ada yang menangis dan satu lagi tertawa? Kita seperti saling menyakiti tanpa tahu apa yang patut kita permasalahkan. Kita seperti saling membenci, tanpa sadar kita pernah saling memiliki.
Bahkan, aku sendiripun bingung untuk jalan fikiranmu yang terlampau rumit itu, aku begitu kehilangan, sementara kamu dalam hitungan minggu udah langsung ada yang gantiin posisi aku. Tanpa kamu sadarin, aku takkan pernah terganti. Apa ini yang harus aku sebut bentuk kesetiaan itu? Gak mungkin. Mati-matian aku melupakanmu, dan segampang itu kamu melupakanku. Apa ini caramu terlihat gagah dengan berhasil membuat sakit hati gadis yang mencintaimu dengan berlebihan? Gadis yang tak pantas kau lukai? Akhirnya aku sadar, kamu belum pantas untuk dicintai sedalam ini.
Gak banyak yang bisa aku lakukan, selain belajar ikhlas. Gak ada yang bisa diperjuangkan, selain membiarkanmu pergi dan berharap kamu gak menggores luka lagi. Aku cuma berusaha nikmatin luka, sampai aku mulai terbiasa. Kehilangan orang yang terlalu berarti dengan alasan yang tidak jelas, udah jadi luka yang aku nikmatin perihnya.
Kamu terlalu sempurna untuk hidupmu, aku sadar tak cukup pantas mendampingimu apalagi untuk kau akui kekasih. Aku bahkan merasa tidak berguna ketika sadar bahwa aku tak bisa menyempurnakan kekuranganmu. Karna itu kamu pantas mendapatkan orang yang sama sempurnanya dengan mu, dan itu bukan aku :) Aku bakal coba terima. Selamat tinggal.