Ahmad Rivai Alam Harahap. Apr'7 2013
Dia pacarku. Dia adalah alasan air mataku satu tahun terakhir ini. Dia adalah jawaban di semua pertanyaan. Dia tidak tampan, tidak pula mapan. Dia tidak baik, dia bukan tipe pria setia. Dia tidak mampu menjadi apa yang papa-ku inginkan. Dia tidak mampu menemani ku berjam-jam seperti yang lain. Dia pelit, dia bukan pria yang royal. Dia tidak putih. Dia bukan orang yang jujur. Dia bukan orang pekanbaru asli. Dia sering buat sakit hati. Dia jahat. Dan dia sudah bersama saya semenjak 7 April 2013.
Berawal semenjak bbm yang berawal 22 Maret tahun lalu, cerita kami dimulai. Bukan setetes air mata yang sudah pernah tertumpah, bukan sebatas sungai yang pernah kami lewati, bukan hanya tawa yang pernah kami keluarkan, bukan sebatas fikiran kalian, hubungan kami rumit, tapi sukses dijalani hingga sekarang. Hubungan kami tidak gampang, tapi alhamdulillah sejauh ini semua nya mampu kami handle.
Hubungan kami memang memuakkan. Hubungan kami terlebih menyiksa aku. Hubungan kami bukan hubungan yang mudah. Sakit yang paling sakit, sudah pernah aku rasakan dengan Rivai. Pahit yang paling pahit, sudah pernah aku hadapi dengan Rivai. Dan disini, aku bicara tentang kesabaran. Sebab, sakit yang pernah aku rasakan, pahit yang sering aku hadapi, bukan jadi alasan untuk aku menyelesaikan hubungan ini. Itulah sebab kenapa, hubungan ini bukan hubungan yang mudah.
Satu tahun lebih sudah kami bersama. Bukan satu dua hal yang pernah terjadi diantara kami. Putus di belakang aryaduta, berantam di pinggir jalan, saling main belakang, hilang kabar dalam beberapa hari, saling mengutamakan teman, tertikung teman, berkata kasar, menghilang dan dicari, makan bersama orang tua kami, ngumpul dengan salah satu keluarga kami, pergi jalan dengan salah satu keluarga kami, dan berbagai kejadian lainnya.
Terhitung dalam hitungan bulan, aku akan berangkat ke Banda Aceh, melanjutkan pendidikan demi masa depan. Seperti perjanjian kami sebelumnya, apapun alasannya, hubungan jarak jauh itu tidak dapat dipertahankan. Perpisahan kami sudah di depan mata, namun kami seolah mencoba untuk menutup mata, berpura-pura baik-baik saja seperti kami masih bisa bersama untuk waktu yang lebih lama. Sampai hari ini, kami masih bersama. Kami masih saling bertukar kabar. Kami masih saling meneriakkan panggilan sayang. Kami masih bercerita tentang harapan kami. Kami masih menutup mata kami. Kami sadar bahwa waktu yang kami punya sudah tidak banyak.
Mungkin memang benar, kami pernah saling sayang. Mungkin memang benar, kami belum ingin pisah, lebih tepatnya belum siap untuk pisah. Disela-sela hubungan yang rumit ini, kami selipkan perjuangan keras untuk hubungan kami. Meski harus terhempas beberapa kali di dalam jurang, mungkin belum akan jadi alasan untuk kami menyerah. Kami memang lebay. Untuk beberapa waktu, kami bisa seperti sepasang sahabat, kami bisa seperti adik-kakak, kami bisa jadi pasangan yang paling manis, tapi untuk beberapa waktu lain, kami bisa jadi musuh terhebat, kami bisa jadi pasangan debat terkuat, kami bisa jadi saingan paling mengerikan.
Kali ini aku jenuh bicara tentang sayang. Beberapa dari mereka, mungkin tidak percaya bahwa kami saling sayang. Sebut saja hubungan kami, hubungan yang rumit, karna kami sering "hand up" untuk beberapa hal yang sedang kami lewati. Harapan kami memang cuma satu, jika memang kami ditakdirkan memang untuk satu, tolong luruskan jalan kami. Namun, jika kami bukan pasangan yang baik, maka pisahkan kami dengan cara yang manis. Ya Allah, semua kuasa memang Engkau lah yang punya.
Valerie Yovita Edward.
