Selasa, 02 September 2014

Bye!

Selamat tinggal. Entah kenapa semua selamat datang pada akhirnya akan berdampingan dengan selamat tinggal. Aku benci pada semua perpisahan. Yang sering kali menuai air mata, sering kali menyisahkan perih, sering kali memberi kenangan. Entah itu tawa yang pernah renyah terdengar saat bersama, ataupun tangis yang pernah pecah saat perpisahan itu datang. Sekali lagi aku tegaskan, aku benci pada perpisahan. Karna semua perpisahan akan mengundang secuil kerinduan. Rindu yang selalu sengaja mengundang air mata. Iya, kembali lagi aku sebutkan, bahwa aku benci pada perpisahan.

Tapi tidak untuk saat ini, aku benar-benar menikmatinya. Benar-benar menikmati rasa kehilangan itu. Semenjak kisah kami selesai, semenjak itu pula aku sadar bahwa ketetapan Tuhan itu mana bisa untuk aku cegah. Dia mungkin pergi, kisah kami mungkin memang sudah selesai, tapi aku percaya bahwa perpisahan kami memang sudah jalan yang terbaik. Kami berpisah, meninggalkan semua senyuman-senyuman, semua air mata, semua perdebatan, semua hal yang mungkin tidak akan pernah bisa diulang dengan orang yang sama lagi. Semua kalimat, "aku sayang kamu" yang sering dia katakan, sudah diganti dengan kalimat, "makasih untuk semuanya". Semua kalimat, "Kamu lagi dimana? Udah makan?" sekarang berubah menjadi, "Jaga kesehatan kamu, baik-baik disana, semoga sukses". Waktu memang kejam, dan sekarang kami memang sudah tidak lagi bersama.

Tidak akan pernah lagi ada jalan untuk kembali, bahwa pada dasarnya semua yang pergi, jika kembali, rasanya tidak akan sama lagi. Cukup, cukup untuk 16 bulan. Cukup untuk semua kebodohan, pergi saja sana, pergi jauh-jauh. Aku ingin sendiri saja, ingin dekat-dekat dengan kesepian. Cari aja wanita lain sana, aku disini jauh lebih baik dengan duniaku yang baru.

Aku bahkan tidak pernah menyesal dengan perkenalan kita tempo hari, tidak pernah menyesal untuk semua yang pernah aku lakukan untukmu, aku tidak pernah menyesal masuk kedalam duniamu yang begitu rumit itu. Meski sakit saat ini, meski air mata juga yang menyambut perpisahan ini akhirnya, aku benar-benar sudah ikhlas untuk perpisahan kita yang diluar naskah ini. Kenapa diluar naskah? Iya, kita pisah sebelum waktunya. Diluar kendali. Aku ikhlas.

Tidak ada pesan yang bisa aku utarakan selain, terimakasih. Tidak ada kata yang bisa aku sebutkan selain, selamat tinggal. Aku mungkin tidak perlu untuk berpesan agar kamu baik-baik saja, menjaga kesehatan, dan semoga dapat wanita yang lebih baik dari aku, karna tanpa aku bilang aku tau kamu pasti akan melakukannya sendiri. Kamu udah besar, dan aku akan terlihat berlebihan jika menyuruhmu menjaga kesehatanmu sendiri. 

Saat kamu baca postingan ini nanti, itu berarti aku sudah jauh dari kehidupanmu, aku pastikan disini aku baik-baik saja, aku bahagia dengan jalanku disini, aku jauh lebih baik sekarang, aku sudah mandiri, aku bisa melakukan semuanya sendiri. Doakan saja aku bisa menyelesaikan pendidikanku dan memperoleh gelar dokter hewan seperti yang pernah aku ceritakan dulu.

Disini, di Banda Aceh, aku selipkan salam perpisahan panjang, dengan ribuan kata terimakasih untuk semua waktu, tenaga, harapan kosong dan semua yang pernah terjadi diantara kita. Kali ini biar aku saja yang pergi, meski sakit luar biasa rasanya, tapi aku pastikan aku baik-baik saja. Lewatkan saja semuanya, hadapi saja dengan senyuman, biarkan aku disini sendiri dulu untuk fokus menata masa depanku. Hidupku terlalu berarti untuk menyesali semua ini. Aku satu-satunya harapan mama dan papa ku, jangan buat aku mengecewakan mereka. Untuk terakhir kali aku katakan, aku disini baik-baik saja, aku benar-benar menikmati duniaku disini. Terimakasih untuk semuanya, selamat tinggal.

Banda Aceh, 03 September 2014
Aku, yang sedang berjuang keras menjadi seorang Dokter Hewan

Valerie Yovita Edward

Tidak ada komentar:

Posting Komentar